Khutbah 23 Maret 2012, Taqwa-Ladeh

Hadirin, jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan oleh Allah SWT!

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang mana kita pada hari ini masih diberi kesempatan untuk melaksanakan shalat jumat. Shalawat serta salam tak luput kita hadiahkan kepada junjungan kita yaitu Nabi Muhammad Rahmatan Lilalamin. Allahumma shalli wa sallim ‘ala muhammad wa ala ali muhammad.

 

Hadirin jamaah shalat jumat yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Apa sebenarnya makna sholat yang sebenarnya kita kerjakan itu?. Barangkali itulah pertanyaan mendasar yang semestinya selalu kita ajukan pada diri kita sendiri takkala kita sedang menunaikan nya. Tetapi kebanyakan  umat Islam jarang mempunyai pertanyaan kritis semacam itu terhadap sesuatu perintah Allah, khususnya shalat.

Sebanarnya dengan shalat itu kita sedang melakukan instropeksi. Di samping instropeksi, shalat juga berfungsi sebagai sarana untuk memotivasi setiap langkah hidup kita, sekaligus alat bagi kita untuk mencegah perbuatan yang tidak benar.

Hal ini sangat ditekankan sekali oleh Allah SWT, sehingga shalat ini dicanangkan sebagai perintah yang sangat penting sekali. Shalat juga merupakan ibadah yang sempurna. Jika Allah menyatakan bahwa Al Quran sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya, Islam sebagai penyempurna ajaran yang dibawa para nabi sebelumnya dan Nabi Muhammad sebagai Rasul yang menyempurnakan ajaran para nabi sebelumnya, maka ibadah shalat adalah ibadah yang sempurna.

Indikasinya dapat kita lihat dari unsur-unsur yang ada pada rukun dan syarat sahnya shalat. Di mana dari keseluruhan unsur yang ada itu semuanya sama dilakukan oleh umat Islam di penjuru dunia. Andaikata ada tukang foto dunia yang mengabadikan orang Islam ketika shalat, maka akan kelihatan sekali kekompakannya. Rukunnya sama, sujudnya sama, bacaan dan seluruh rukunnya semua sama. Tak ada sedikitpun yang berbeda.

Unsur kesamaan itu apabila kita jabarkan dalam dunia kerja, maka tidak ada pekerjaan yang berat apabila dikerjakan secara berjamaah atau gotong-royong. Seberat apapun suatu pekerjaan, apabila dilakukan dengan berjamaah dan gotong-royong maka akan terasa ringan. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing, dengan tanggung jawab yang sama seperti ibadah shalat, maka tidak ada pekerjaan yang berat.

Pertanyaan ke dua, mengapa Allah SWT menyuruh umat Islam menunaikan shalat setiap hari? mengapa tidak menyuruh setiap minggu sekali, sebulan sekali atau setahun sekali?. Mengapa Allah memerintahkan kita shalat selama sehari lima kali?
Jawabannya mungkin adalah Manusia itu jiwanya tidak akan stabil jika tidak menunaikan shalat setiap harinya. Sedangkan yang sudah melaksanakan shalat setiap hari saja kadang-kadang jiwanya dan imannya masih labil. Makanya Allah menyatakan “faaqimish shalah lidzikri”, tegakkan shalat untuk mengingat Aku.

Manusia itu diciptakan dengan sifat lupa yang selalu melekat dalam dirinya. Manusia bila memperoleh kesuksesan cenderung lupa. Apabila lupa telah menguasai dirinya, maka dia mudah menjadi sombong. Bahkan yang mendapat kesusahan saja juga sering lupa. Apabila orang yang ditimpa kesusahan ini lupa kepada Allah, dia pasti mengalami frustasi, putus asa yang akan menjerumuskannya pada jalan yang tidak di ridhoi Allah. Firman Allah menyatakan :

Artinya: Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).

 

Mengapa kita diperintahkan untuk rukuk? apa kandungan dari perintah itu? dan mengapa kita diperintahkan untuk sujud?. Dua ajaran itu, rukuk dan sujud, mengandung makna filosofis bahwa kita ini dianjurkan untuk menundukkan dada dan kesombongan kita. Di hadapan Allah-lah, kita harus menundukkan dada. Karena biasanya orang yang sombong itu selalu menunjukkan dadanya, mengangkat dadanya. Maka perintah rukuk ini adalah anjuran kepada kita, agar kita tidak bersikap sombong.

Sedangkan sujud mengandung makna yang sama dengan perintah rukuk. Seperti kita ketahui, kepintaran seseorang itu selalu di identikkan dengan otak. Sedangkan otak manusia itu ada di dalam kepala manusia. Perintah sujud mengandung makna filosofis sepintar apapun manusia, di hadapan Allah tidak ada artinya apa-apa. Oleh karena itu otak manusia yang ada dalam kepala manusia selalu ada di bawah ketika ia melakukan sujud.

Seperti diketahui bersama, setiap pergantian gerak dalam shalat selalu disertai kalimat takbir. Mengapa demikian? hal ini berkaitan dengan perintah rukuk dan sujud seperti dijelaskan di atas. Perintah rukuk dan sujud mengandung ajaran supaya kita bersikap tidak menyombongkan diri dan berusaha untuk merendahkan hati. Ajaran ini menegaskan antara sesama manusia itu tidak ada perbedaan. Baik itu dari warna kulit, keturunan maupun kepintarannya. Dihadapan Allah semua manusia itu sama. Tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil, tidak ada yang lebih berkuasa atau menjadi hamba, semua sama. Yang Maha Besar adalah Allah SWT semata. Yang Maha Kuasa adalah Allah semata. Inilah makna kalimat takbir yang selalu kita ucapkan dalam setiap pergantian gerak shalat kita.

Untuk memahami makna ajaran dalam ajaran shalat ini memang perlu penghayatan yang lebih dalam. Hendaknya kalimat takbir tidak hanya di ujung bibir saja. Dengan menghayati makna kalimat takbir ini akan membawa kita pada penghayatan makna keberadaan manusia dan makhluk yang ada di bumi ini adalah kecil. Semua makhluk pasti musnah, Hanya Allah yang maha Besar dan kekal

Shalat yang diartikan sebagai “do’a” (etimologi) dan “perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam” (terminologi) sejatinya memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi. Salam yang merupakan gerakan terakhir dalam ritual shalat sebenarnya memiki filosofis yang sangat tinggi. Salam sendiri berarti keselamatan, hal ini merupakan indikasi bahwa seorang muslim harus senantiasa menebarkan keselamatan dan kesejahteraan. Adapun gerakan menengok ke kanan dan ke kiri ketika mengucapkan salam sebenarnya mengajarkan bahwa keselamatan dan kesejahteraan tidak hanya untuk pribadi tapi juga harus ditebarkan pada lingkungan sosial. Di sinilah shalat mengajarkan konsep kepeduliaan sosial, sehingga ketika seseorang telah selesai dari shalat sebenarnya ia di tuntut untuk menegakkan ajaran dan filosofis shalat dalam keseharian. Sehingga dalam al-Qur’an perintah shalat tidak diiringi dengan “mengerjakan” tapi “mendirikan”. Disamping itu, dalam Islam perintah shalat selalu digandengkan dengan perintah Zakat yang bernuansa sosial, hal ini membuktikan bahwa kesalehan individual harus selalu beriringan dengan kesalehan sosial.

Inilah rahasianya mengapa Allah menyuruh kita untuk melaksanakan shalat minimal lima kali dalam sehari. Dengan penghayatan yang mendalam terhadap makna yang terkandung dalam ajaran shalat dan itu diulangi sebanyak lima kali setiap harinya, maka hal ini akan membawa pengaruh pada kesehatan jiwa. Dengan shalat jiwa kita menjadi suci. Tidak ada sifat keserakahan yang menjerumuskan kita pada sikap merendahkan orang lain. Dengan hilangnya sifat-sifat syaithaniyah inilah akan membawa kita pada kesuksesan. Dengan hilangnya penyakit-penyakit yang ada dalam jiwa ini, jiwa akan cenderung untuk melakukan kebaikan. Dan ini sesuai dengan firman Allah di atas. Kunci kesuksesan adalah berbuat kebajikan, rukuk dan sujud kepada Allah SWT.

Barakallahuli walakumfilquraniladzim fastaghfirhu innahu huwalghafuururrahiiiim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s