Salah satu penyakit hati yang berbahaya

RIYA’

Allah SWT berfirman: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”. (Al-Maun ayat 4-6)

Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil. Ditanyakan kepada beliau, “Apakah itu?” Rasuulullah saw menjawab. “Riya”. Allah Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat ketika membalas amal-amal para hamba, “Pergilah kepada orang-orang yang karenanya engkau beramal (riya’ padanya”, lalu lihatlah apakah kalian mendapat balasan dari mereka?”

Nabi Isa as berkata: “Apabila diantara kalian berpuasa, hendaklah ia meminyaki rambut dan janggutnya serta mengusap kedua bibir supaya orang lain tidak menganggap ia berpuasa. Apabila ia memberi dengan tangan kanannya, hendaklah ia sembunyikan tangan kirinya, dan apabila ia shalat hendaklah ia turunkan tabir pintunya. Sebab Allah membagi pujian seperti membagi rezeki.

Dari dalil-dalil di atas menjelaskan masalah riya dalam beribadah yang selama ini sudah menjangkit hati umat muslim dan merupakan penyakit hati yang amat bahaya bagi manusia.  Riya atinya “pamer” atau melakukan sesuatu bukan karena Allah swt. Riya kebalikan dari ikhlas, satu sikap menonjolkan diri untuk mendapatkan pujian orang lain, yaitu memamerkan dirinya sebagai orang yang taat dan patuh kepada Allah denga melakukan serangkaian ibadah dengan mengharapkan puijan, sanjungan dari orang lain, bukan atas dasar ikhlas karena Allah semata. Tandanya ialah bersemangat jika dilihat orang lain dan malas jika sendirian serta memamerkan semua amal ibadahnya yang telah dilakukannya.

Muhammad al-Barkawi (ahli tasawuf) mengatakan bahwa riya adalah mencari manfaat duniawi dengan cara menampilkan amat ukhrawi (akhirat) serta segala hal yang mencerminkan amat tersebut dan penampilan itu disengaja dilakukan supaya dilihat oleh orang lain. Riya adalah mencari tempat dalam hati orang lain dengan cara menampilkan amal ibadah.

Al-Ghazali menjelaskan hakikat riya bahwa riya adalah seseorang menampilkan amal dalam bentuk ibadah dengan tujuan diperhatikan oleh orang lain sehingga ia mendapat tempat di dalam hati orang lain. Disini tekanan utama adalah pada kehendak (tujuan) seseorang untuk mendapat kedudukan (tempat) dihati orang lain. Jalan yang ditempuhnya untuk mencari tujuan tersebut ialah dengan memperlihatkan ketaatan kepada Allah swt.

Dilihat dari sudut wajah penampilan, menurut al-ghazali riya dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu:

  1. Riya dalam masalah agama dengan penampilan jasmani, seperti memperlihatkan kurusnya badan dan pucatnya muka (dengan kurusnya badan orang mengira dia banyak berpuasa dan dengan pucatnyaa muka orang akan mengira dia orang yang banyak berjaga malam dalam melakukan shalat tahajud).
  2. Riya dalam penampilan sosok tubuh dan pakaian seperti membiarkan bekas-bekas sujud di dahi supaya dikatakan rajin melakukan shalat atau dengan memakai pakaian yang biasa dipakai orang-orang saleh agar ia dikatakan termasuk orang saleh.
  3. Riya dalam perkataan, seperti selalu berbicara masalah keagamaan supaya dikatakan orang ia ahli agama atau pecinta agama.
  4. Riya dalam perbuatan seperti sengaja memperbanyak shalat sunah dihadapan orang supaya dikatakan orang saleh.
  5. Riya dalam persahabatan, seperti sering memberati diei dengan mengirimi ulama supaya dikatakan orang bahwa dia termasuk orang alim.

Riya adalah salah satu tanda-tanda orang munafik dan termasuk orang celaka diakhirat kelak, sebagaimana yang dikemukakan dalam firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (QS An-Nisa ayat 142)

Nabi SAW bersabda: “Allah tidak menerima suatu amal yang didalamnya terdapat unsur riya meski sebesar atom”

Salah satu syarat diterimanya ibadah seorang hamba adalah hadirnya keihlasan. Allah SWT berfirman: “padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.. “(Al-baqiyah. 89).

Keihlasan merupakan rahasia yang berkaitan dengan kerja hati dan kejiwaan, dan apabila hati dan kejiwaan dikuasai oleh kemurnian tauhid, maka keikhlasan akan selalu hadir dalam setiap ibadah.

Islam asalah agama yang sangat memperhatikan masalah motif beribadah. Oleh karena itulah hadirnya keikhlasan merupakan hal mutlak yang harus dipenuhi serta tidak bersikap riya karena penyakit riya ini dilarang tegas dalam Al-qur’an dan sunnah oleh karena ia akan menghanguskan nilai ibadah pahala kita. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan (si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya dengan riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak mengusai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (al-Baqarah (2) : 264)

Tanpa disadari pada zaman sekarang ini banyak umat manusia yang terjangkit penyakit riya, padahal dampak riya itu sangat merugikan yaitu terhalangi dari petunjuk Allah, menimbulkan keguncangan jiwa dan kesempitan hidup, hilangnya karismatika dirinya pada orang lain, hilangnya profesionalisme dalam bekerja, terjerumus pada sikap ujub, terpedaya dan sombong, batalnya amal ibadah yang dilakukan, akan mendapat azab pada hari akhir.

Dari uraian diatas, disini penulis menyimpulkan bahwa pada saat ini penyakit riya memang sudah melekat dikalangan umat muslim tanpa disadarinya. Pada contohnya seperti di media internet atau jaringan sosial banyak umat muslim yang terkadang menyebutkan segala ibadah yang telah dilakukan nya kepada khalayak banyak yang tanpa kita ketahui dengan pasti apa maksud dan tujuannya apakah untuk mendapatkan simpati atau yang lain tanpa ia sadari bahwa itu sangat merugikan dirinya sendiri dan mengurangi nilai amal yang sudah susah payah ia kerjakan, pada awalnya untuk Allah tapi dengan adanya sikap riya mungkin berkurang atau tiada lagi nilai di sisi Allah, Berdoa di media jaringan sosial yang tak tau apa makna nya, dan apakah Tuhan memiliki facebook yang dapat mendengarkan doa kita? Padahal masalah doa atau ibadah adalah masalah rahasia antara hamba dan Sang Khalik.

Disini penulis mengajak kepada teman-teman mari kita renungkan hal atau permasalahan ini, kita gunakan akal sehat di kepala kita dan bukan menggunakan kepala lutut.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan semua dan terutama untuk saya sendiri yang telah mengabaikan hal sepele ini tapi berbahaya untuk diri sendiri. Semoga ada penambahan, kritik, untuk penyempurnaan dari tulisan ini agar menjadi tulisan yang enak dibaca dan membuka hati kita agar beribadah dengan ikhlas.

Barangsiapa bersikap riya’, maka Allah akan memperlihatkan keriya’annya di akhirat kelak. Barangsiapa suka memperdengarkan ibadahnya, maka Allah akan memperdengarkan perbuatannya itu kelak” (HR Bukhari dan Muslim)

By: Robi Rusman

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s