Akhir Hidup yang Baik

Akhir hidup yang baik, Sesungguhnya bagian manusia dari dunia ini adalah umurnya. Apabila dia membaguskan penanaman modalnya pada apa yang dapat memberikan manfaat kepadanya di akhirat kelak, maka perdagangannya akan beruntung. Dan jika dia menjelekkan penanaman modalnya dengan perbuatan-perbuatan maksiat dan kejahatan sampai dia bertemu dengan Allah pada penghabisan (akhir hidup) yang jelek itu, maka dia termasuk orang-orang yang merugi.

“Barangsiapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dan dia (dalam keadaan) beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan “ (Q.S an-Nahl:97).

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman,

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. al-Zalzalah:7-8)

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala menegaskan,

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya;tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (QS. al-Mu’minun:115-116)

Karenanya orang yang berakal adalah orang yang dapat menghisab (menghitung) amalan dirinya sebelum Allah Ta’ala menghitungnya, dan dia merasa takut dengan dosa-dosanya itu menjadi sebab akan kehancurannya.

Sementara itu kematian dan akhir hidup seseorang akan selalu menjemputnya, kapan Allah Ta’ala menghendaki niscaya tidak ada seorangpun yang dapat merubahnya, dia tidak dapat menghindari dari sebuah kenyataan yang akan menjemputnya. Allah Ta’ala berfirman,

 

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran:185)

Marilah kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, apa yang telah menjadikan diri kita terpedaya dengan gemerlapnya kehidupan dunia, akankah akhir hidup kita akhir hidup yang baik atau bahkan sebaliknya? Na’udzubillahi min dzalik.

Dalam sebuah riwayat al-Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Said al-Khudriy yang mengisahkan seorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian genap seratus orang. Dan pada akhir cerita, dia dikisahkan meninggal dalam keadaan mukmin karena taubatnya. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Said al-Khudhriy).

Dan Sebaliknya dalam riwayat yang lain dikisahkan suatu ketika ada seorang laki-laki ikut berperang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallamuntuk menghadapi kaum Musyrikin sehingga dia terluka. Dan karena tidak kuasa menahan rasa sakit, akhirnya dia bunuh diri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dia termasuk ahli neraka”. Setelah itu seseorang mendatangi nabi menceritakan kejadian ini. Kemudian Rasullah bersabda,

“Sungguh seorang benar-benar melakukan perbuatan penduduk surga di hadapan manusia, namun (sebenarnya) dia termasuk penghuni neraka, dan sungguh seseorang benar-benar melakukan perbuatan penghuni nereka di hadapan manusia, namun (sebenarnya) di a termasuk penghuni surga .” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dua riwayat di atas telah tegas dan jelas menunjukkan bahwa akhir hidup seseorang, baik dan buruknya tidak ada seorangpun yang dapat mengetahuinya.

Dan akhir hidup seseorang ditentukan oleh baik-dan buruknya akhir perjalanan hidupnya, yang telah Allah Subhanahu wata’ala tentukan dalam taqdirnya.

Dalam riwayat Ahmad dengan sanad yang shahih dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan perbuatan penghuni surga, sedangkan dia dicatat sebagai penghuni neraka. Maka sebelum kematian menjemput, ia berubah dan mengerjakan perbuatan penghuni neraka, kemudian ia mati, maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan perbuatan penghuni neraka sedangkan dia dicatat sebagai penghuni surga. Maka sebelum kematian menjemput, ia berubah dan melakukan perbuatan penghuni surga, kemudian ia mati, maka masuklah ia ke dalam surga.”.

Dalam riwayat lain yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib, diceritakan ada seorang laki-laki bertanya kepadanya:

“Seseorang lelaki bertanya, Wahai Rasulullah!, apakah kita tidak pasrah terhadap taqdir (ketentuan)Allah Ta’ala terhadap kita dan meninggalkan amalan? Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Beramalah kalian! Maka setiap orang akan dimudahkan sebagaimana apa yang ditakdirkan baginya.” Adapun orang yang ditakdirkan bahagia, maka ia akan dimudahkan untuk melakukan perbuatan golongan orang-orang yang bahagia. Sedangkan orang yang ditakdirkan sengsara, maka ia pun akan dimudahkan untuk melakukan perbuatan golongan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau membaca ayat, “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, (QS. al-Lail : 5)

Dalam hadits-hadits di atas telah menunjukkan bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan di akhir hayat telah Allah Ta’ala tentukan di dalam kitabNya (taqdirnya). Dan yang demikian berdasarkan amalnya yang merupakan sebab keduanya. Maka akhir hidup yang baik atau sebaliknya ditentukan dengan keadaan akhir amalannya. sebagaimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam riwayat yang lain dari Sahl bin Said:

“Sesungguhnya segala amal itu tergantung dengan akhirnya.”

Maka barangsiapa yang yang telah mengikuti tuntunan Allah Ta’ala dan NabiNya, maka akhir hayatnya adalah merupakan akhir hayat yang baik, sebaliknya barangsiapa dalam hidupnya senantiasa mengikuti hawa nafsu dan syaithan, maka niscaya dia akan mendapatkan akhir hidup yang tidak baik, karena dosa-dosa yang dia lakukan selama hidupnya, sebagaimana pernah dikisahkan oleh Abdul Aziz bin Rawad yang dinukil oleh Ibnu Rajab dalam kitabnya, suatu hari dia menjumpai seorang yang akan meninggal dunia, kemudian ditalqinkan untuk mengucapkan kalimat Tauhid, namun ternyata dia tidak bisa mengucapkan, dan dia berkata pada akhir perkataannya: Dia telah mengkufuri kalimat tersebut. Dan meninggal dalam kekufuran. Kemudian Abdul Azis menanyakan tentang dia, maka dikatakan dia adalah seorang peminum khamr. Kemudian Abdul Aziz mengatakan:

“Berhati-hatilah kalian terhadap segala (bentuk) dosa dan maksiat, karena dosa-dosa itulah yang menyebabkannya.”
Marilah kita menengok ke belakang bagaimana para as-Salafus Shalih bersikap dalam menyikapi akhir hayatnya dengan harapan dapat menjadi peringatan dan pelajaran bagi kita.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih, diceritakan sebagian para sahabat meneteskan air mata, manakala mengingat akhir hayatnya, ditanyakan kepadanya kenapa sampai demikian, salah seorang diantara mereka menjawab: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda:

“Sesunggunya Allah Ta’ala menggenggam penciptaannya dalam dua genggaman, dan beliau bersabda, Diantara mereka berada di Surga dan diantara mereka yang lain berada di neraka, dan aku tidak tahu, dalam genggaman yang mana aku akan berada?” Berkata sebagian Salaf:

“Tidaklah mata ini menangis, melainkan ketentuan (Allah) yang telah tertulis (di Lauhul Mahfudz) yang menyebabkannya.”

Suatu saat Sufyan ast-Tsauri didapati gelisah dan resah karena memikirkan akhir hayatnya, bahkan dia meneteskan air mata seraya berkata:

 “Aku khawatir kalau (ketentuanku) di dalam kitab (Lauhul Mahfudz) termasuk yang sengsara (celaka). Dan keimanan dicabut manakala kematian menjemput” (HR. abu Nu’aim dalam al-Hilyah)

Diceritakan Malik bin Dinar selalu bangun malam sambil memegangi janggutnya dan berkata:

“Wahai Tuhanku, sungguh Engkau telah mengetahui penghuni Surga dari penghuni neraka, maka di mana tempat Malik berada di antara keduanya?.” (HR. abu Nu’aim dalam al-Hilyah)

Demikianlah keutamaan mereka para as-Salafus Shalih, selalu khawatir dan was-was terhadap akhir hayat dan kehidupannya. Tentunya kita yang hadir di majelis yang mulia ini lebih dari itu, disebabkan dosa-dosa dan kemaksiatan yang senantiaasa kita lakukan. Namun demikian yang ada justru sebaliknya, kita selalu merasa aman dengan makar Allah Subhaanahu wa Taala, merasa selamat dari adzabnya sehingga sekian bencana, cobaan dan ujian baik berupa gempa, tsunami, tanah longsor, banjir, angin puyuh, gunung meletus terasa belum menjadikan kita sadar padahal Allah Subhaanahu wa Taala berfirman:

 “Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf: 99)

Berkata al-Hafidz Ibnu Katsir: “Sesungguhnya perbuatan dosa, maksiat dan kecondongan kepada hawa nafsu, pengaruhnya akan mendominasi pelakunya ketika menjelang kematian dan syaithan akan menguatkannya, maka berkumpul padanya dua kekalahan dengan lemahnya keimanan, sehingga dia akan terjatuh pada akhir hidup yang tidak baik, Allah Ta’ala berfirman:

 “Dan adalah Syaithan itu tidak mau menolong manusia” (QS. al-Furqan: 29)

Dan akhir hidup yang buruk semoga Allah Ta’ala menjauhkannya dari kita tidak akan menimpa kepada orang yang shalih secara lahir dan bathin, yang jujur perkataannya, dan tidak terdengar cerita yang demikian. Akan tetapi akhir hidup yang buruk akan selalu menimpa seseorang yang telah rusak bathinnya, keimanannya dan lahirnya, yaitu perbuataanya serta bagi orang-orang yang berani melakukan perbuatan dosa besar dan suka melakukan perbuatan jahat, maka perkara yang demikian akan selalu menguasai sampai nyawa menjemput sebelum melakukan taubat.

Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah bagi orang yang berakal untuk berhati-hati atas keterikatan dan ketergantungan dengan sesuatu yang terlarang. Selayaknya hati, lisan dan anggota tubuhnya selalu mengingat Allah Ta’ala, dan menjaga diri supaya selalu dalam ketaatan kepada-Nya dalam kondisi dan situasi apapun.

“Ya Allah jadikanlah sebaik-baik perbuatan kami pada akhir hidup kami, dan sebaik-baik kehidupan kami sebagai akhir hayat kami, dan sebaik-baik hari kami, hari di mana kami akan bertemu dengan Mu. Ya Allah tunjukilah kami semua kepada perbuatan yang baik dan jauhkanlah diri kami dari perbuatan yang mungkar dan terlarang.”

Sumber: https://www.patuih3d.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s